Jangan Asal Bertutur

Freedom of speech pada dasarnya adalah hak setiap orang. Semua orang berhak mengutarakan argumen atau bahkan arogansi dalam berbiacara. Terkadang sebagai manusia mungkin tidak sempat berfikir apa yang mereka utarakan belum tentu akan sejalan dengan apa yang orang lain pikirkan dan gue pernah melakukan itu. Gue pun sadar bahwa "as a human" gue harus bersikap dewasa menghadapi orang-orang yang tentunya memiliki prinsip dan latar belakang yang berbeda-beda. Apa yang kita anggap itu adalah sesuatu "guyonan" atau sekedar "celetukan" belum tentu orang lain menerima sebagai hal yang sama. Karena apa yang kita utarakan bukan berada pada zona dimana perbincang itu seharusnya berada pada ruang lingkupnya. Terkadang pikiran-pikiran yang terlintas "katanya..." "Katanya disana lebih..." yang membuat manusia meluapkan segala beban yang mereka rasakan ke luar zona mereka berada, sehingga terkesan menyindir atau mencela. Padahal pada kenyataannya gak ada niat seperti itu dan tak perlu dibesar-besarkan. Meminta maaf adalah jalan dalam menyelesaikan perbedaan soal argumen tersebut. Tapi, balik lagi mengenai sifat dasar manusia apakah setiap manusia menerima permintaan maaf tersebut atau bahkan akan menjadikannya sebagai beban pikiran yang menjadikannya sebagai pemicu to pit arguments.

Jadi Mahasiswa PKL

Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa yang sedang PKL bukan perkara yang mudah. Gue sendiri sebagai mahasiswa yang terbiasa sehari-hari hanya menjalankan berbagai teori yang ada di kelas. Terkadang gue pun lebih sering bercanda atau tertidur di dalam kelas. Gue sendiri menyadari bahwa pelajaran yang diajarkan di kampus belum tentu semuanya masuk ke otak gue. Gue sendiri mempunyai sifat pemalas yang terkadang sulit untuk dihilangkan. Tapi kalau gue udah asik dengan satu pelajaran yang membuat diri gue tertantang untuk mempelajarinya gue akan lebih ambisius. Dan sekarang gue merasakan bahwa dunia PKL sangat berbeda ketika di kelas. Disini gue dituntut harus mampu melakukan segalanya mandiri dan serba cepat, belum lagi berbagai tekanan dari berbagai pihak. 

Gue ngerasain banget gimana di tempat PKL gue ini mempunyai profesionalitas dan disiplin waktu. Awalnya, saat minggu-minggu pertama gue menjalan PKL gue ngerasa bingung apa yang harus gue lakukan. Belum lagi tugas dan tuntutan yang harus gue jalankan. Terjun ke dunia baru itu memang nggak mudah buat gue. Gue harus mampu beradaptasi dan mengenal berbagai peraturan apa saja yang diterapkan disini. Tapi gue sadar nggak semua yang gue rasain itu hanya dari sisi negatifnya saja. Di tempat gue PKL gue belajar bagaimana seseorang harus bersikap, melatih mental, belajar ikhlas dan sabar. 

Gue juga punya pengalaman ngga enak yang gue rasain disini mulai dari diusir sama mba-mba cafe tempat biasa gue makan (sebenernya bukan cafe juga sih karena lebih terlihat seperti minimarket yang menyediakan beberapa bangku serta menu makanan), karena memang hampir setiap hari gue nongkrong di cafe itu. Biasanya hal yang gue lakukan adalah ngerjain tugas harian dari pembimbing PKL, ngerjain laporan kasus besar, atau hanya sekedar duduk dan makan. Tapi gue sempet mikir kenapa hanya gue yang diusir. Kalau pun tuh mba-mba mau ngusir gue harusnya bisa dengan cara yang lebih sopan.

“Mba maaf udah selesai kan? gantian ya yang lain ada yang mau makan.” Kata tuh mba-mba

Yaudah akhirnya gue pergi dan gue harus mencari tempat dimana gue bisa menyelesaikan laporan. Padahal di tempat cafe itu ada beberapa orang yang hanya sekedar duduk bahkan tiduran, mungkin karena yang duduk pada saat itu dokter cowo ya. Jadi mba-mba ini tuh emang agak gatel sama pelanggan cowo, apalagi dokter. 

Pengalaman gue yang lainnya adalah saat gue lupa meminta kasus harian (jadi di tempat gue PKL setiap mahasiswa wajib menyelesaikan kasus harian Senin-Sabtu) karena gue ga masuk, jadi gue harus ganti hari. Oke, akhirnya gue minta deh pada hari berikutnya ke kakak pembimbing gue. Tapi disaat gue meminta kasus harian ke kakak pembimbing gue disaat itu juga ada supervisor dan akhirnya gue kena omel. 

“Kemarin kamu gak masuk ya? Nama kamu siapa? Nanti saya catat ya untuk penilaian.” Kata ibu supervisor
“Pundra, Bu” Kata gue
“Kamu ganti hari harus diluar jadwal PKL ya gak bisa di double pada hari berikutnya” Kata ibu supervisor

Ya yasudah lah, mungkin salah gue juga karena terlalu hectic dengan yang namanya deadline laporan sampai lupa meminta kasus harian. Tapi yang gue sayangkan, kenapa mahasiswa PKL tidak diizinkan untuk jatah libur entah itu sakit atau izin karena kejadian yang tak terduga. Pegawai saja masih ada jatah untuk cuti dan libur dua kali dalam seminggu, kenapa mahasiswa PKL hanya diberi kesempatan libur satu kali dalam seminggu. Sebenernya untuk jadwal PKL dari Senin sampai Sabtu bukan menjadi perkara untuk gue, tapi beberapa hari dalam seminggu itu kita sebagai mahasiswa PKL dituntut untuk bangun pagi (sampai di tempat jam 05.30) dan pulang malam (jam 07.30) karena kewajiban untuk melakukan intervensi ke pasien. Bukannya lama waktu pegawai bekerja hanya 8 jam? Hal itu lah yang terkadang gue berfikir apakah kita diberi kesempatan untuk istirahat bahkan menyelesaikan berbagai tugas dan laporan yang amat banyak? Ya, namanya juga mahasiswa PKL. 
 

Pundra Dara Template by Ipietoon Cute Blog Design